Kemarin 20 Agustus 2009 setelah cari2 di internet saya nemu produk dari Olay untuk muka namanya Olay Regenerist Serum....dari testimony orang yang sudah menggunakan sih bagus sehingga saya tertarik membelinya.
Saya baru mulai pakai hari ini mudah2an produk ini cocok buat saya, saya akan menulis hasilnya nanti:)))
Oh iya harga Olay Regenerist Serum Rp. 162.700 dan untuk sabunnya Rp. 43.100 di Guardian BC Balikpapan.
Kamis, 20 Agustus 2009
Rabu, 22 Juli 2009
Kamera Sony ku sudah bagus lagi
Beberapa waktu lalu kamera Sony DSC-S730 di tas saya di ambil Shalom anakku untuk foto2 dan dijatuhkan ke lantai akhirnya lensa kamera tidak berfungsi, lensa tidak mau masuk ke dalam jadi mendul keluar. Saya diamkan beberapa lama tidak melakukan apa2 selama sebulan lebih. Setelah saya ingat bahwa ulang tahun Shalom yg ke 3 tidak lama lagi saya baru ketar ketir antar Kamera tersebut ke Sony Service Center pada tgl. 16 July 2009, dan apa kata mbak di Sony, Kameranya pasti jatuh nih tidak garansi...untuk ganti lensa biayanya 1 jutaan. Wah dalam hati saya mahal kali mending beli baru ha ha...padahal tidak ada uang. Hari itu saya pulang dari Sony, tapi setelah saya sampai di kantor saya pikir2 lagi bahwa biarlah Kamera ku bawa lagi ke Sony untuk di check dulu apa kerusakannya nanti kan tidak langsung di ganti apabila ada yang harus di ganti, orang Sony pasti konfirmasi dulu berapa biayanya. Pada hari Jumat tgl. 17 July 09 saya antar lagi Kamera ke Sony Service Center...saya minta untuk di check dan diberikan informasi apa kerusakan dan berapa biayanya...kartu garansi sempat di scan sama orang di SOny walaupun mereka bilang bahwa ini tidak garansi karena ketahuan kalau jatuh. Saya pulang sambil berdoa supaya diringankan biayanya....pokoknya berdoa sepanjang jalan...termasuk banyaklah doaku he he..gitu deh kelau mau sesuatu kencang doanya tapi saat tidak ada apa2 diam diam aja...jadi malu:-)
Besoknya Sabtu 18 July 2009 saya di rumah lagi tidur siang sekitar jam 3 sore ada telpon dari code 0542....ogah2an juga ngangkat karena gak kenal tetapi akhirnya saya angkat dan ternyata itu dari Sony bo....mbaknya bilang bisa antar kartu garansi dan nota pembelian camera...saya bilang kapan...katanya kapan ibu bisa...setelah saya mikir2 saya antar ajalah sekarang...mungkin kameranya mau dikirim ke Jakarta dan sepertinya bisa garansi. Saya langsung mandi dan meluncur ke Sony dan tidak lupa banyak2 berdoa di jalan.
Saya sampai di Sony ketemu dengan cowok dan banyak nanya tapi saya kurang suka lihat caranya menghadapi client...ogah2an... tidak lama mbak yang menerima kamera kemarin keluar membawa kamera saya dan meminta kartu garansi + nota pembelian untuk di scan....mbak nya bilang jangan jatuh lagi ya...kita tidak bisa bantu lagi apabila terulang....saya tidak perhatikan kalau kamera di depan saya lensanya dah gak mendul lagi keluar tapi sudah lepeh ha ha....ternyata saudara2 kamera saya sudah OK dan itu Garansi lho..keren kan....saya di suruh coba dan sudah ok ok banget....setelah kartu garansi saya dikembalikan saya balik ke rumah dan sepanjang jalan saya bersuka cita luar biasa....bersyukur kepada Tuhan...doaku di dengar dan didengar padahal itu kesalahan saya....terima kasih Tuhan, Tuhan melembutkan hati orang2 yang memperbaiki kamera saya...saya dibantu tidak keluar biaya sepeser pun....oh Thank you God...Engkau memang baik dan sangat baik, luar biasa saya senang sekali senang sekali. Thank You Lord Jesus...juga buat mbak dan mas2 di Sony thank you ....Sony memang tiada duanya, saya tidak rugi beli Sony he he.
Besoknya Sabtu 18 July 2009 saya di rumah lagi tidur siang sekitar jam 3 sore ada telpon dari code 0542....ogah2an juga ngangkat karena gak kenal tetapi akhirnya saya angkat dan ternyata itu dari Sony bo....mbaknya bilang bisa antar kartu garansi dan nota pembelian camera...saya bilang kapan...katanya kapan ibu bisa...setelah saya mikir2 saya antar ajalah sekarang...mungkin kameranya mau dikirim ke Jakarta dan sepertinya bisa garansi. Saya langsung mandi dan meluncur ke Sony dan tidak lupa banyak2 berdoa di jalan.
Saya sampai di Sony ketemu dengan cowok dan banyak nanya tapi saya kurang suka lihat caranya menghadapi client...ogah2an... tidak lama mbak yang menerima kamera kemarin keluar membawa kamera saya dan meminta kartu garansi + nota pembelian untuk di scan....mbak nya bilang jangan jatuh lagi ya...kita tidak bisa bantu lagi apabila terulang....saya tidak perhatikan kalau kamera di depan saya lensanya dah gak mendul lagi keluar tapi sudah lepeh ha ha....ternyata saudara2 kamera saya sudah OK dan itu Garansi lho..keren kan....saya di suruh coba dan sudah ok ok banget....setelah kartu garansi saya dikembalikan saya balik ke rumah dan sepanjang jalan saya bersuka cita luar biasa....bersyukur kepada Tuhan...doaku di dengar dan didengar padahal itu kesalahan saya....terima kasih Tuhan, Tuhan melembutkan hati orang2 yang memperbaiki kamera saya...saya dibantu tidak keluar biaya sepeser pun....oh Thank you God...Engkau memang baik dan sangat baik, luar biasa saya senang sekali senang sekali. Thank You Lord Jesus...juga buat mbak dan mas2 di Sony thank you ....Sony memang tiada duanya, saya tidak rugi beli Sony he he.
Jumat, 03 April 2009
Bertugas untuk berbahagia dan berhasil
Anda dilahirkan BUKAN saja untuk memiliki HAK tetapi juga
BERTUGAS untuk BERBAHAGIA & BERHASIL!
Sukses ada di depan Anda!
nikmati liburan weekend Anda bersama orang2 yg Anda kasihi
peace & love
Diana Sihotang
BERTUGAS untuk BERBAHAGIA & BERHASIL!
Sukses ada di depan Anda!
nikmati liburan weekend Anda bersama orang2 yg Anda kasihi
peace & love
Diana Sihotang
Rabu, 01 April 2009
Sang Malaikat Kecil telah Menyelesaikan Tugasnya
Sang Malaikat Kecil telah Menyelesaikan Tugasnya
Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia
________________________________________________________________________
Pengantar Redaksi: Dalam terbitan Warta RC minggu lalu dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim, anggota Dewan Paroki Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar kisah hidup Olivia yang berjuang melawan penyakitnya sejak usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.
______________________________________________________________________________________
Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.
Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. “Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.
Bergelut dengan Pengobatan
Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. “Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.
Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.
Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.
Membawa kepada Kristus
Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar “Smile”. Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya “Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile.” Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.
Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.
Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”. Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.
“Terimakasih Tuhan Yesus”
Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”. Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin...” Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.
Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus” . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv.” Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia meneteskan airmata.
Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar2 menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45.
Tugasnya sudah selesai
Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.
Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.
Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan”.
Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.
Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)
Sumber dari milis revival.
Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia
________________________________________________________________________
Pengantar Redaksi: Dalam terbitan Warta RC minggu lalu dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim, anggota Dewan Paroki Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar kisah hidup Olivia yang berjuang melawan penyakitnya sejak usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.
______________________________________________________________________________________
Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.
Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. “Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.
Bergelut dengan Pengobatan
Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. “Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.
Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.
Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.
Membawa kepada Kristus
Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar “Smile”. Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya “Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile.” Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.
Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.
Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”. Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.
“Terimakasih Tuhan Yesus”
Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”. Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin...” Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.
Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus” . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv.” Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia meneteskan airmata.
Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar2 menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45.
Tugasnya sudah selesai
Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.
Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.
Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan”.
Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.
Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)
Sumber dari milis revival.
Tips menghilangkan Jerawat dan Timbilan
Apabila ada Jerawat atau Timbilan yang bakal tumbuh di wajah/ di mata Anda langsung dioleskan bawang putih supaya jerawatnya tidak jadi tumbuh, saya sudah mencobanya pada jerawat dan timbilan di mata saya dan berhasil, gampang kan:-)
Selamat mencoba.
Selamat mencoba.
Obat Demam Berdarah
Posted by: "Cornelius Rupang (DHL MY)"
Tue Mar 31, 2009 2:58 am (PDT)
Subject: Obat Demam Berdarah
Importance: High
DAUN ULAR...... obat DBD paling ampuh.
Oleh omri - 26 Februari 2009 - Dibaca 131 Kali -
Ini jelas iklan.. dan kalau sampai masuk ke blog ini, berarti sang
redaktur mengizinkan. Masalahnya yang satu ini tidak dijual di apotik,
tapi cukup gampang didapat, nyari sendiri dan murah. Jadi iklannya tidak
mempromosikan produk obat dan tidak butuh Badan POM untuk melegalisir.
Obat DBD, demam berdarah dengue yang paling top dan ampuh saat ini, dan
perlu dimasyarakatkan adalah Daun ULAR, alias Daun UBI JALAR. Ambil
pucuk daun ubi jalar sebanyak porsi ikatan sayuran, rebus dengan seliter
air selama lebih dari 5 menit [godok 1 jam juga bisa]. Minum sebagai
pengganti air minum, berarti sekitar seliter sehari. Ubi jalar ya Bung,
bukan daun singkong. Ubi Jalar. Makanya saya pendekin jadi DAUN ULAR,
biar pada inget, karena sudah beberapa teman jadi kekenyangan makan daun
singkong.
Resep ini sudah saya coba beberapa kali. Ponakan kena DBD, trombosit
turun ke 80 ribu, sehari diberi rebusan daun ular, langsung naik diatas
150 ribu. Rumah sakit pada marah, kehilangan pasien. hehehe..
Beberapa teman juga saya sudah suruh coba, ampuh Boss. Isteri saya 3
minggu lewat di "vonis" DBD oleh dokter, tanpa lihat hasil labnya,
langsung saya kasih daun ular kita, besoknya test lagi Trombositnya jadi
396 ribu. Gila, maximumnya biasanya 400 ribu. Ternyata waktu dibilang
DBD, trombosit istri saya masih 150 ribu. Hebat tenan.
Resep ini dari mana? Dari teman di Philippine, dan sedang populer sekali
di sana dan beberapa kali menjadi topik seminar kesehatan di sana. Untuk
lebih afdolnya anda googling saja " comote" atau "kamote", begitu bahasa
sononya, supaya ndak merasa dikadali... Jangan googling nya "daun ular",
yang keluar nanti gambar kobra ngantuk.. hehehe.
Selamat mencoba dan tolong diterusin ke tetangga dong. Ini murah meriah
dan HEBAT. Efek sampingan mestinya tidak ada, karena daun ini biasa juga
dibikin jadi sayur di kampung saya atau paling tidak dibikin menjadi
makanan ternak..
Tue Mar 31, 2009 2:58 am (PDT)
Subject: Obat Demam Berdarah
Importance: High
DAUN ULAR...... obat DBD paling ampuh.
Oleh omri - 26 Februari 2009 - Dibaca 131 Kali -
Ini jelas iklan.. dan kalau sampai masuk ke blog ini, berarti sang
redaktur mengizinkan. Masalahnya yang satu ini tidak dijual di apotik,
tapi cukup gampang didapat, nyari sendiri dan murah. Jadi iklannya tidak
mempromosikan produk obat dan tidak butuh Badan POM untuk melegalisir.
Obat DBD, demam berdarah dengue yang paling top dan ampuh saat ini, dan
perlu dimasyarakatkan adalah Daun ULAR, alias Daun UBI JALAR. Ambil
pucuk daun ubi jalar sebanyak porsi ikatan sayuran, rebus dengan seliter
air selama lebih dari 5 menit [godok 1 jam juga bisa]. Minum sebagai
pengganti air minum, berarti sekitar seliter sehari. Ubi jalar ya Bung,
bukan daun singkong. Ubi Jalar. Makanya saya pendekin jadi DAUN ULAR,
biar pada inget, karena sudah beberapa teman jadi kekenyangan makan daun
singkong.
Resep ini sudah saya coba beberapa kali. Ponakan kena DBD, trombosit
turun ke 80 ribu, sehari diberi rebusan daun ular, langsung naik diatas
150 ribu. Rumah sakit pada marah, kehilangan pasien. hehehe..
Beberapa teman juga saya sudah suruh coba, ampuh Boss. Isteri saya 3
minggu lewat di "vonis" DBD oleh dokter, tanpa lihat hasil labnya,
langsung saya kasih daun ular kita, besoknya test lagi Trombositnya jadi
396 ribu. Gila, maximumnya biasanya 400 ribu. Ternyata waktu dibilang
DBD, trombosit istri saya masih 150 ribu. Hebat tenan.
Resep ini dari mana? Dari teman di Philippine, dan sedang populer sekali
di sana dan beberapa kali menjadi topik seminar kesehatan di sana. Untuk
lebih afdolnya anda googling saja " comote" atau "kamote", begitu bahasa
sononya, supaya ndak merasa dikadali... Jangan googling nya "daun ular",
yang keluar nanti gambar kobra ngantuk.. hehehe.
Selamat mencoba dan tolong diterusin ke tetangga dong. Ini murah meriah
dan HEBAT. Efek sampingan mestinya tidak ada, karena daun ini biasa juga
dibikin jadi sayur di kampung saya atau paling tidak dibikin menjadi
makanan ternak..
Selasa, 24 Maret 2009
Fokus, Semangat, dan Luruskan!
MASIH - sangat marah?
emosi memuncak? kesal?
dicuex-in? malu? iri hati?
atau malah sudah dendam kesumat?
PEKERJAAN - belum selesai dan ditegur atasan?
kagak naik pangkat/gaji?
kasiannnn deh lo!?
BENAHI pandangan positif Anda, karena semua itu akan merubah dan merusak diri Anda! TETAP FOKUS, SEMANGAT-kan serta LURUS-kan PANDANG-an akan HARAPAN serta CITA2 TERTINGGI Anda! DO THE BEST, friend! SEKARANG atau Anda akan TETAP DITEMPAT (jalan ditempat)! met lanjutkan aktivitas & sukses selalu bagi Anda peace & love ~ds http://dianasihotang.com/2009/03/24/fokus-semangat-dan-luruskan/
emosi memuncak? kesal?
dicuex-in? malu? iri hati?
atau malah sudah dendam kesumat?
PEKERJAAN - belum selesai dan ditegur atasan?
kagak naik pangkat/gaji?
kasiannnn deh lo!?
BENAHI pandangan positif Anda, karena semua itu akan merubah dan merusak diri Anda! TETAP FOKUS, SEMANGAT-kan serta LURUS-kan PANDANG-an akan HARAPAN serta CITA2 TERTINGGI Anda! DO THE BEST, friend! SEKARANG atau Anda akan TETAP DITEMPAT (jalan ditempat)! met lanjutkan aktivitas & sukses selalu bagi Anda peace & love ~ds http://dianasihotang.com/2009/03/24/fokus-semangat-dan-luruskan/
Langganan:
Postingan (Atom)
